Selasa, 24 November 2015

Review: Bellamore A Beautiful Love To Remember by Karla M. Nashar



Paperback, 264 halaman
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2007 
Bahasa: Indonesia 
Genre: new-adult, romance, contemporer, metropop
Rating: 3,5 / 5 

Sinopsis dari Goodreads 

"But what do you do if you get horny?"
Demi Zeus dan para dewa Yunani lainnya!!! What is it with this man?!!!
Pria dihadapanku ini, yang kukenal belum sampai sebulan, bukan pacarku, bukan sahabatku, tidak juga punya hubungan darah apapun denganku, hanya rekan bisnis, tapi ingin tahu apa yang kulakukan jika libidoku sedang naik?!?!?!
He's got to be kidding me!!!!

Awalnya nama Fabian Ferdinandi bagiku sama artinya dengan kejengkelan tak berujung. Pria Italia itu sangat tahu bagaimana membuat seluruh syarafku menegang cepat dan membuat setiap percakapan kami berakhir dengan kemarahan dipihakku. Namun yang paling menyebalkan adalah, Fabian sangat tahu bagaimana membuatku tampak seperti alien karena usiaku yang sudah 27 tahun ini, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan VIRGINITY-ku.Sesuatu yang menurutnya sangat absurd untuk wanita seperti aku.

Setidaknya begitulah. Sampai akhirnya waktu memisahkan dan mempertemukan kami lagi pada suatu pagi yang beku di Time Square. Namun seiring musim berganti di New York, aku pun harus menghadapi kenyataan mengejutkan tentang Fabian. Dan perasaanku sendiri terhadapnya.





“Some things better left unspoken” 

My review


Awal cerita yang ringan, menggugah, dan penuh humor. Lana seorang wanita karir yang baru saja single, karena baru saja putus dari pacarnya Tristan dengan alasan Lana memegang prinsipnya, 'sex after married'. Kemudian Fabian, laki-laki Itali yang menjadi perwakilan dari perusahannya di Itali yang bekerja sama dengan perusahan tempat Lana. 

Singkat cerita Fabian yang tahu kalau tentang Lana pun tak pernah bisa mengerti bagaimana bisa ada wanita yang sudah menginjak 27 tahun dan masih virgin, yang berakibat Fabian selalu menggodanya. Well, seperti yang tertulis di awal sinopsis.. hampir semua godaan Fabian selalu menjerumus ke obrolan dewasa a.k.a sex. Dari semua godaan-godaan yang selalu membuat Lana jengkel dan membuatnya Fabian tak pernah absen dari pikirannya. Sampai Lana tak mengerti lagi apakah perasaannya masih tetap benci atau sudah menyeberang menjadi suka. 

Seperti kisah cinta kebanyakan yang bermula dari saling membenci ini, ketika Lana menyadari perasaannya semua sudah terlambat. Fabian sudah tidak berada di Indonesia lagi. 

Kemudian ketika takdir mempertemukan mereka lagi di New York semua sudah tidak sama lagi. 

Apakah mereka bisa bersatu? Apakah cinta cukup untuk mempersatukan mereka? 





“I guess god simply wants me to meet many wrong people before I meet the right one.” 
*
*
“I won't cry because it came to an end, but I will smile because it happened” 



Review: Fangirl by Rainbow Rowell



Paperback, 461 halaman
Terbit 30 Januari 2014 oleh Pan Macmillan
Bahasa: English
Genre: young-adult, romance, contemporer
Rating: 5/5 

Synopsis from Goodreads

Cath and Wren are identical twins, and until recently they did absolutely everything together. Now they're off to university and Wren's decided she doesn't want to be one half of a pair any more - she wants to dance, meet boys, go to parties and let loose. It's not so easy for Cath. She's horribly shy and has always buried herself in the fan fiction she writes, where she always knows exactly what to say and can write a romance far more intense than anything she's experienced in real life.



Now Cath has to decide whether she's ready to open her heart to new people and new experiences, and she's realizing that there's more to learn about love than she ever thought possible ...


A tale of fanfiction, family, and first love



My review

Fangirl adalah novel yang luar biasa. Membacanya seolah mengembalikan lagi kenangan waktu pertama masuk kuliah dulu. Saat pertama harus berpisah dengan orang tua karena kuliah di luar kota. Harus bertemu dengan orang-orang baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Kampus baru, kota baru, teman baru, dan tentu saja kisah petualangan baru.

Cath dan Wren adalah kembar yang selalu bersama sejak kecil. Satu sekolah, satu kamar dan sama-sama fangirl-ing tentang The Simon Snow (sebuah series yang ada di Fangirl). Setiap ada acara sekolah mereka selalu bersama. Singkatnya, di mana ada Cath  pasti ada Wren, dan vise versa.

It would seem weird to their high school friends to see Wren without Cath.”

Tetapi Cath harus menjalani kehidupan barunya sebagai mahasiswa baru dengan Wren yang lebih memilih untuk tinggal di dorm yang berbeda dengan Cath. Wren yang ingin merasa ‘berbeda’ dengan saudari kembaranya –exited dengan kehidupan kampus dan prospek untuk bertemu dengan orang baru, berpesta dan doing college girl thing –mabuk. Sedangkan Cath masih tetap dengan obsesinya pada The Simon Snow, menulis fanfiction dan tidak suka bertemu orang baru.

Fangirl ceritanya berfokus pada Cath, tentang hubungannya dengan Wren yang mulai menjauh, Reagan –roommate-nya yang easygoing dan ceplas-ceplos meskipun awalnya kelihatan acuh-tak-acuh tapi kemudian jadi bersahabat dengan Cath.

“I feel sorry for you, and I'm going to be your friend."
"I don't want to be your friend. I like that we're not friends."
"Me, too. I'm sorry you ruined it by being so pathetic.”

Dan tentang  Abel –HTS nya dari SMA selama tiga tahun- yang tertanya menemukan gadis lain di kampusnya –mereka beda kampus. Yang kemudian Cath dekat dengan Levi –teman Reagan yang sering nongkrong di kamar Cath dan Reagan, dan Nick –teman Cath di kelas Fiction-Writing.

Dibalik sikap Cath yang cenderung tertutup dan bermasalah dengan ‘kepercayaan’ merupakan produk dari perceraian orang tuanya saat dia masih delapan tahun. Dia yang awalnya menghindari intimacy dengan lawan jenis, perlahan mulai meluluh setelah dia dekat dengan Levi. Levi yang perhatian dan mudah tersenyum dengan semua orang atau suka tebar ranjau –istilah di kampusku-, dan sering mengambil protein-bar milik Cath saat dia tidak di kamar. Tapi jangan khawatir, banyak sweet-moment antara Levi si charming dan Cath si jarang tersenyum.

“How do you not like the Internet? That's like saying, 'I don't like things that are convenient. And easy. I don't like having access to all of mankind's recorded discoveries at my fingertips. I don't like light. And knowledge.”


“Hey, now that you’re eating in the dining hall, can I eat your protein bars?”
“You were already eating my protein bars.”
“I felt bad about doing it behind your back.”


“What are you trying to tell me?”
“That it wasn’t just a kiss, Cather. There was no just.”
“No just?”
“No.”
“So?”
“So … aahhggch. So I’m sorry. I don’t know why I said that at the hospital. I mean, I know why I said it, but I was wrong. Really wrong. And I wish I could go back to that morning, when I woke up here, and have a stern talk with myself, so that the rest of this crap wouldn’t have happened.”


“What's the plan?"
"My plan is to do things that make you want to hang out with me again tomorrow. What's your plan?"
"I'm going to try not to make an ass of myself."
"So we're all set.”

Fangirl sebuah novel family-romance remaja-dewasa masa kini yang dikemas dengan unik. Pertengkaran, pertemanan, pengkhianatan, dan percintaan.  5 bintang untuk novel ini.